Minggu, 24 Mei 2020

Idul Fitri Kembali Suci?


*Benarkah idul fitri artinya kembali suci?*

Kata عِيْد berasal dari fi’il عَادَ-يَعُوْدُ (kembali), semestinya berbunyi عِوْد jika melihat fi’il-nya namun berat mengucapkan وْ yang didahului kasroh maka diganti dengan يْ (huruf yaa) [1] menjadi عِيْد Dan setiap kata عِيْدyang keluar dari lisan orang Arab adalah mengacu pada suatu waktu dimana kesenangan maupun kesedihan akan berulang, [2] atau yang biasa kita kenal dengan “hari raya”. Maka ia disebut dengan عِيْد karena setiap tahunnya, pada waktu yang sama, perasaan tersebut akan kembali hadir.

Adapun makna الفِطْر ar-Razzi menyebutkan bahwa setiap lafadz yang terdiri dari huruf ف-ط-ر memiliki makna asal “membuka” atau “mengeluarkan”.[3]

Misalnya:

فَطَرَ النَّابُ 

(giginya tumbuh) ketika gigi tersebut membuka daging dan keluar.

فَطَرَ النَّبَاتُ 

(tanamannya tumbuh) ketika tanaman tersebut membuka tanah dan keluar.

فَطَرْتُ النَّاقَةَ 

(memeras unta) ketika mengeluarkan susunya dengan jari jemari.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي

Mengapa aku tidak menyembah Dzat yang telah menciptakanku (mengeluarkanku dari rahim ibu). (Yasin: 22)

Sehingga disebut dengan وَقْتُ الفِطْرِ (waktu berbuka) adalah ketika matahari terbenam dan orang-orang yang berpuasa membuka mulut mereka, setelah sepanjang hari mereka menahannya. [4] sebagaimana dalam sebuah hadits:

فَلَمَّا غَرَبَتْ الشَّمْسُ قَالَ لِرَجُلٍ انْزِلْ فَاجْدَح.... فَقَالَ إِذَا رَأَيْتُمْ اللَّيْلَ قَدْ أَقْبَلَ مِنْ هَا هُنَا فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ

Ketika matahari telah tenggelam Rasulullah bersabda kepada salah seorang: "Turun dan siapkanlah makanan untukku"…. Kemudian bersabda, "Jika kalian telah melihat malam mulai menyingsing dari arah ini, maka seorang yang berpuasa boleh berbuka" (Riwayat al-Bukhori no. 4886 dan Muslim no. 1842)

Maka dari itu al-Khalil bin Ahmad menyebutkan bahwa الفِطْرُ adalah lawan dari الصَّوْم dan ia merupakan mashdar yang bisa mensifati tunggal maupun jamak,[5] misalnya:

جَاءَ رَجُلٌ فِطْرٌ، وَجَاءَ قَوْمٌ فِطْرٌ 

“Telah datang lelaki yang berbuka, dan telah datang kaum yang berbuka”.

Apa perbedaan antara الفِطْرُ dan الفِطْرَةُ?

Lafadz الفِطْرُ adalah isim mashdar dari أَفْطَرَ sedangkan الفِطْرَة adalah mashdar haiah dari فَطَرَ (menciptakan) yang maknanya kondisi awal penciptaan. Sama seperti mashdar-mashdar dengan wazan فِعْلَة lainnya seperti جِلْسَة (kondisi duduk), رِكْبَة (kondisi berkendaraan), dll. [6] Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ

(tetaplah atas) fitrah Allah (kondisi awal penciptaan) yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu, tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (ar-Rum: 30)

Demikian pula Rasulullah bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ

"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (keadaan awal penciptaan)” (Riwayat al-Bukhori no. 1296 dan Muslim no. 4803)

Maka dari sini jelas bahwa pemaknaan Idul Fitri dengan “kembali suci” adalah tidak tepat, melihat penjelasan yang telah dipaparkan di atas, ditambah lagi tidak pernah terdengar ucapan Idul Fitrah menurut dalil syar’i maupun lisan orang Arab.

Bagaimana dengan istilah Zakat Fitrah?

al-Jauhari menyebutkan: ia disebut Zakat Fitri karena ia diwajibkan pada Idul Fitri, dan demikianlah orang Arab mengucapkannya. [7]

Menurut istilah madzhab Syafi’i Zakat fitri disebut juga dengan Zakat fitrah dan ini tidak salah dari segi bahasa, [8] demikian juga Ibnu Qutaibah menyebutkan, bisa juga disebut Zakat Fitrah.[9] Hal ini dikarenakan ia berfungsi untuk mensucikan jiwa [10]

Meskipun istilah yang digunakan dalam hadits hanya Zakat Fitri atau Shodaqoh Fitri

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى النَّاسِ

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam mewajibkan Zakat Fitri di bulan Ramadhan bagi setiap muslim (Riwayat Muslim no. 1635)

فَرَضَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَةَ الْفِطْرِ

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam mewajibkan Zakat Fitri (Riwayat al-Bukhori no. 1416)

Kesimpulan:

Tidak mengapa kita namakan dan maknai

Zakat Fitrah sebagai Zakat untuk mensucikan jiwa, karena tepat dari segi bahasa dan ulama pun membolehkannya.

Adapun penamaan Idul Fitrah, atau memaknai Idul Fitri sebagai Idul Fitrah, tidak ada ulama yang menyebutkannya, pun tidak tepat dari segi bahasa.

Wallahu A'lam

Abu Kunaiza

Salam dari Kota Riyadh

[1] Al-‘Ain: 2/219

[2] Tahdzibul Lughoh: 3/84

[3] Maqoyisul Lughoh: 4/510

[4] Asasul Balaghoh: 2/28

[5] Al-‘Ain: 7/418, al-Mukhashshash: 4/59

[6] An-Nihayah fi Ghoribil Hadits wal Atsar: 3/457

[7] Al-Muthli’ ‘Ala Alfadzil Muqni’: 174

[8] Al-Mughrib fi Tartibil Mu’rib: 363

[9] Al-Muthli’ ‘Ala Alfadzil Muqni’: 174

[10] Syamsul ‘Ulum wa Dawaa’u Kalamil ‘Arob minal Kulum: 8/5212

Jumat, 24 April 2020

Imsak

Adakah Syariat Imsak? Bagaimana dg di timur tengah dan dunia internasional?
----------
Imsak itu memang ada, kalau orang paham *dengan pengetahuan bahasa* ia bisa melihat garis besar ini. Imsak secara bahasa adalah menahan, Dia masdar dari amsaka yumsiku Imsakan, kemudian ini dijadikan istilah ketika ramadhan sbg jadwal imsakiyah, karena diramadhan itu ada Puasa sebulan penuh. orang Imsak atau menahan dari yang membatalkan puasa dari subuh sampai maghrib. jadi Imsak ini Imsak ini hanya istilah saja, namun yg jd masalah di Indonesia jadwal imsak nya itu di majukan 10 menit dari jadwal subuh, ini rancu. Saya lihat di media sosial Timur Tengah ada jadwal imsakiyah, tapi tetep *imsaknya timur tengah itu dari subuh sampai maghrib, bukan 10 menit sebelum subuh*. Entah kenapa pemahaman ini tidak berubah padahal banyak orang yang paham bahasa Arab, *karena ditakutkan orang terus aja salah paham dikiranya kalau sudah orang teriak-teriak Imsak itu udah nggak boleh makan* padahal patokannya itu adalah adzan subuh. Jangan sampe kita mengharamkan apa yg Allah halakan.

Ini kan cuma hati-hati. Betapa banyak orang awam yg akhirnya tidak teredukasi karena alasan ini. Mereka setelah dengar "imsak" takut makan bahkan ada yg sampai beranggapan batal puasa makan minum setelah teriak imsak.

Kamis, 02 April 2020

Bahasa Arab Online


Kisah Dr Firanda Andirja LC.MA dalam belajar Bahasa Arab dari Nol

Beliau dulu cerita kepada kami, kalau beliau pas awal masuk madinah tidak bisa ngomong Bahasa Arab (gk lancar), sehingga susah mengikuti pelajaran kuliah.

Akhirnya beliau minta turun tingkat ke Ma'had Lughoh di UIM. Dengan taufiq Allah dan kemudian memang kecerdasan yang beliau miliki sehingga bisa mengalahkan banyak mahasiswa yang lulusan pondok-pondok. Masya Allah 

Setelah lulus S1 dan lanjut S2 hingga doktor
Beliaupun di amanahi ngajar di Ma'had Lughoh di Univ Islam Madinah.

Kalau antum tau, di ma'had lughoh itu ngajari dari nol, mulai Alif Ba' hingga mahir selama dua tahun. Sehingga beliau in syaa Allah sudah paham metode ngajar bahasa di UIM.

Silahkan diikuti......!!
Jangan disia siakan
Siapkan kuota, belajar gratis.

Jangan lupa nyatet, biar banyak faidahnya. 

Barokallahu fikum